Pages

Cerpen : Kiamat Dunia Tahun 2012,Masihkah Saya Hidup ?

Diposkan oleh tegar Saputra on Senin, 01 Oktober 2012


SAYA sejak di bangku SMP suka membaca buku-buku apa saja. Mulai psikologi, ekonomi, hukum, filsafat, agama, astronomi, metafisika dan lain-lain. Di garasi mobil yang kosong, saya punya delapan lemari yang berisi buku-buku.Teman-teman saya SMP Negeri II Bojonegoro tentu tahu, kalau apa yang saya tulis ini benar.
Pada 2010 yang lalu saya tertarik membaca beberapa prediksi tentang Kiamat Dunia 2012 sebagai berikut.
1.Prediksi   Nostradamus : A big object heading to our planet, it will reach by 2012 but it wont hit us
2.Kemudian prediksi  Albert Einstein : Be careful about Pole Shift to the earth that can suffer people alot during 2012.
3.Lantas prediksi  Suku Maya: Meramalkan kehidupan manusia dimulai …dari 0….0.0.0.0 yaitu pada 11 Agustus 3114 SM sampai berakhir pada 13.0.0.0.0 yaitu 21 Desember 2012.
4.Juga,  Mama Lauren pernah meramal, pada tahun 2012 nanti jumlah penduduk di Indonesia tinggal 40%. Dia menjelaskan, pada tahun itu sebuah bencana besar akan melanda Bumi secara Global, mungkin setiap negara nantinya hanya akan menyisakan 30-40% kehidupan.
5.Kemudian beberapa  Biksu di Tibet. Mereka mengatakan pada awal tahun 2012 merupakan tahun paling mendebarkan bagi umat manusia, dimana banyak fenomena aneh yang terjadi. Namun pada penutupnya, Biksu mengatakan Bumi akan terselamatkan oleh sebuah kekuatan besar yang melindungi mereka secara kasat mata, sehingga memungkinkan peradaban manusia tidaklah sepenuhnya musnah.
Sekarang, 21 Desember 2012. Saat itu Hari Jum’at. Seperti biasa pagi-pagi saya dan klub sepeda lainnya bersepeda di sekitar Jl.MH Thamrin menuju Monas. Saya menggunakan sepeda lipat mini.
Tiba-tiba keanehan terjadi. Langit yang semula cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Anehnya, tidak ada angin.
“Lihat ke langit! Lihat ke langit!” Orang-orang berteriak sambil melihat ke atas. Sungguh menakutkan. Mungkin ada jutaan meteor sedang meluncur ke bumi. Beberapa di antaranya mengenai Hotel Mandarin dan langsung menghancurkan hotel itu rata dengan tanah. Ledakannya luar biasa. Sayapun terpental sekitar 12 meter.
Kepanikanpun terjadi. Orang berlari ke mana saja. Saya tinggalkan sepeda saya yang remuk. Saya berlari ke Utara. Semua gedung bertingkat bergoyang. Semua kacanya pecah. Lampu PLN padam. Tak ada penerangan listrik. Gelap pekat. Hanya sinar-sinar meteor yang jatuh yang memberikan cahaya.
“Oh Tuhan! Ampuni saya!” Saya berteriak histeris. Saya coba hubungi saudara saya lewat HP. Tidak ada sinyal.Saya terus berlari. Saya lihat satu meteor lagi menghantam gedung Bank Indonesia.Meledak,terbakar dan rata dengan tanah.
“Ya,Tuhan,” sambil berlari saya terus membaca Surat Al Fatihah.
Terus berlari menuju Monas. Ratusan orangpun berbuat sama.Mencari tanah lapang yang relatif kosong tak ada bangunan. Nafas saya terengah-engah. Suara hiruk pikuk cukup memekakkan telinga. Mobil digas cepat-cepat. Mungkin ingin segera pulang ke rumah.
Akhirnya saya dan ribuan orang lainnya sampai di Monas.
“Oh,Tuhan.Ampuni semua dosa saya!” Saya takut sekali.Hanya bisa meneteskan air mata.Sedih.Jauh dari saudara.
Tiba-tiba saja terjadi gempa bumi. Saya ingat, Jayabaya pernah meramalkan pada 2012 Pulau Jawa Selatan akan terjadi gempa dahsyat. Bahkan saya yakin, Jawa Barat telah terbelah dan berpisah dengan Jawa Tengah.
Di langit masih terus berjatuhan meteor dan salah satunya menghantam stasiun Gambir.Meledak dahsyat.Hancur. Saya tutup muka saya dengan kedua belah telapak tangan saya.
“Oh Tuhan! Selamatkanlah nyawa saya!” Saya berharap. Lapangan Monas semakin lama penuh sesak. Dan kepanikan semakin menjadi-jadi ketika tanah yang kami injak tiba-tiba bergerak, retak sekitar lima sentimeter.
Haruskah saya takut menghadapi kematian? Kalau kematian memang takdir, kenapa saya harus takut? Nyatanya, ketakutan merupakan hal yang sangat manusiawi.
Lagi, sebuah meteor kecil jatuh tepat di tugu Monas.Meledak.Keluar percikan api dahsyat. Monaspun rubuh. Banyak orang terluka. Bahkan mungkin sekitar 100 orang tewas seketika.
Segera meredakah bencana? Tidak! Tiba-tiba bumi terasa berputar arah. Saya tidak tahu lagi mana Utara,Selatan,Timur atau Barat. Kemudian diikuti angin puting beliung dengan warna hitam yang menakutkan. Tidak cuma satu, tetapi ada sekitar 20 angin puting beliung. Satu di antaranya melewati lapangan Monas, mengangkat puluhan orang,kemudian dicampakkan ke tanah.Mati.
Muncul lagi bencana lain. Suhu udara tiba-tiba menjadi dingin,dingin dan luar biasa dngin. Saya dan semua orang mulai menggigil.
“Ya,Tuhan.Nyawaku adalah milikmu. Kalau Kau mau mengambil nyawaku sekarang.Saya pasrah.” Saya mulai pasrah.Pasrah dan pasrah.Tidak ada pilihan lain. Saya tidak tahu bagaimana nasib saudara-saudara saya. Merekapun pasti tak tahu saya di mana.
Sekitar lima jam kemudian suasana agak mereda. Tak ada transportasi. Saya duduk kelelahan. Ingin pulang ke Tangerang, tak ada bus.Tak ada ojek.Tak ada mobil yang berani lewat karena takut dirampas orang-orang.
Perut lapar.Haus.Walaupun ada uang, tapi tidak ada orang jualan.Perih perut rasanya. Selangkah demi selangkah saya pulang ke Tangerang berjalan kaki.Dua hari saya baru sampai di rumah.
Rumah saya dan tetangga berantakan.Bahkan rumah-rumah se-Indonesiapun berantakan. Meja,kursi,lemari,komputer jungkir balik.
Saya beruntung masih menyimpan beras satu karung. Memang saya persiapkan untuk mengantisipasi bencana. Celakanya, air PAM macet.Listrik padam.Tak ada gas elpiji.Terpaksa saya memasak nasi memakai air mineral yang memang sudah saya persiapkan untuk mengantisipasi bencana itu.Ada lima galon air mineral. Di luar, saya menanak nasi memakai kayu bakar. Istri dan anak-anak, saya tidak tahu di mana mereka. Apakah mereka masih hidup ataukah sudah mati, saya tidak tahu.
Ternyata bencana datang lagi. Gempa bumi dahsyat. Tsunami dahsyat. Tangerang yang seumur hidup tak pernah banjir, mendadak banjir besar. Air di rumah saya setinggi satu meter. Saya sempat melihat beberapa mayat terapung terbawa arus air banjir.Beruntung, beras dan air mineral saya letakkan di tempat teratas.
Sejak saat itu bencana terus terjadi tiap hari. Gempa,banjir,longsor,tsunami,meteor jatuh,angin puting beliung,hujan yang sangat ekstrim,suhu yang sangat dingin,listrik padam,badai, awan gelap dan entah apa lagi.
Hari ke duapuluh, beras habis, air mineral habis. Tak ada toko buka. Saya lapar dan haus. Tetangga saya banyak yang mati kelaparan.
“Lihat ke atas!Lihat ke langit” Teriak orang-orang. Sayapun melihat ke langit. Saya ingat, itulah UFO (Unidentified Flyng Object) milik mahluk angkasa luar yang cerdas. Ada ribuan pesawat UFO dengan kecepatan tinggi mendekati bumi. Pesawat mereka memancarkan cahaya terang benderang.
Tepat di atas kompleks perumahan saya, satu UFO berhenti sekitar 100 meter dari atas tanah. Bentuknya bulat. Dari bagian bawah tengah, tiba-tiba terbuka pintu. Dan ada satu lantai lingkaran turun ke bawah. Di atas lantai ada lima mahluk luar angkasa.
“Jangan takut! Saya anak cucu Nabi Sulaiman! Dulu Nabi Sulaiman pernah ke bumi kami naik Bouraq.Kami akan menyelamatkan kalian! Jangan takut” Teriak mereka.
Saya dan tetanggapun berebut untuk naik ke tangga UFO itu.Tak lama kemudian saya dan sekitar 100 mahluk bumi sudah di dalam ruangan pesawat UFO.Kamipun diberi makan dan minum.Entah apa namanya.Rasanya aneh,tetapi nikmat.
Dan pesawat segera melesat ke angkasa dengan kecepatan cahaya.
Dari pesawat, saya melihat 60% bumi sudah hancur,porak poranda dan gelap gulita. Menurut penjelasan mahluk luar angkasa yang menguasai berbagai bahasa mengatakan, sekitar 60% mahluk bumi telah tewas. Mereka yang dulu tak percaya kiamat 2012-pun saya lihat tewas.Mereka yang hiduppun sengsara.
Saya selamat.Entah saudara-saudara saya.Entah istri dan anak-anak.
Saya bersyukur dan menangis di dalam pesawat yang membawa saya ke planet lain.
Sumber foto/gambar: fadhilza.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar